Kepemimpinan yang dilakukan oleh perusahaan raksasa Harley Davidson ditransformasikan oleh pemimpinnya melalui hati, ada banyak rekan yang menyempatkan diri untuk berkomentar. Dari komentar positif – ada yang minta dijelaskan lebih lanjut, ada yang memberi tambahan referensi, ada yang merasa menemukan dirinya sendiri, sampai dengan komentar negatif. Berdiri diatas keyakinan bahwa kemajuan dan penciptaan, senantiasa tumbuh diatas dialetika positif dan negatif
Sejalan dengan mereka yang meyakini bahwa kehidupan adalah sumber inspirasi yang luar biasa, kita didik banyak sekali oleh universitas kehidupan. Setiap kelokan kehidupan adalah guru yang amat berharga. Ini berarti, semakin banyak kelokan kehidupan, semakin matang dan dewasa kita dibuatnnya.
Entah ada kaitannya atau tidak, setiap kali mau menulis tentang kemulian-kemulian kepemimpinan datanglah godaan yang menyiksa. Seakan-akan kehidupan sedang berbicara ke saya : spritualitas maupun kualitas lainnya haruslah diuji melalui realitas-realitas social. Tanpa ujian terakir kita hanya menjadi mesin kata-kata yang kosong, amat berisik, dan miskin makna.
Entah bagaimana kia, yang jelas dalam kasus memang benar banyak kata orang : semakin tinggi pohon semakin keras juga anginbertiup. Dalam tikungan karir yang penuh tanjakan, ada banyk sekali godaan yang menyiksa. Dari isu yang tidak bedasar, fakta yang diputarbalikkan, kontribusi yang tidak diperhitungkan sama sekali, sampai dengan atasan yang memimpin dengan terlalu banyak kekuasaan.Dcampur jadi satu, jadilha godaan-godaan terakhir sebagai tekanan-tekanan yang mematangkan jiwa dan kepribadian.
Tuhan memang adil, terutama dengan menghadirkan tantangan ketika kita sudah siap menghadapinya.Namun, kalau hal-hal seperti ini hadir dulu, ketika emosi terjaga, stok kebijakan yang belum cukup atau sifat kekakanakan masih memimpin, godaan semacam ini bias membuat dinding tubuh dan jiwa jebol seketika. Dan kemudian serta banjir kemana-mana. Ada orang bertanya dari mana kematangan bias diperoleh ?
Ditengah-tengah pencarian reflektif ini, terlintas bagi kita pengandaian tentang ayunan.Kepemimpinan kalau boleh diandaikan sebenarnnyamirip ayunan. Gaya dan style hanyalah ayunan kekanan kekiri. Dan ayunan hanya dihitung berfungsi bila bias mengayun kedua arah. Tidak ada yang berani mengatakan bahwa ayunan kekiri dan kekanan. Demikian juga sebaliknya, kepemimpinan di tingkat gaya juga demikian. Tidak ada satupun yang bias menjamin gaya partisipatif lebih baik dibandingkan otokratik misalnya. Dan juga sebaliknya.
Bercermin dari sini, ada yang lebih mendasar dari sekadar gerakan ayunan kekanan dan kekiri yakni kekokohan dan cengkraman kaki ayunan. Kemanapun ayunan mengayun dan seberapa keraspun ia diayun tidak ada yang berbahaya kalau kaki ayunannnya mencengkram fondasi secara amat kokoh. Kepemipinan juga demikian.
Kalau kepemimpinan diukur dari seberapa banyak ide kita diikuti secara penuh suka cita oleh orang lain, maka fondasi ayunan diatas amatlah menentukan. Dan tidak ada fondasi ayunan kepemimpinan yang lebih kokoh dari sang hati. Pemimpin-pemimpin bermodalkan hati-dicatat dalam sejarah- telah memimpin selamanya.Mahatma Gandhi, Moh hatta, lady Diana, hanyalah segelintir orang yang memimpin selamanya. Ide, nilai, karya dan inspirasi yang dihadirkan pemimpin-pemimpin dengan hati ini, melampaui jauh umur mereka. Dan bukan ridak mungkin akan dicatat dan dikenang selamanya.
Terinspirasi dari sinilah kemudian bahwa kepemimpinan dari dalam hati teramat penting untuk dibiarkan menjadi lahan ide dengan terlalu sedikit pengunjung. Jabatan dan kekuasaan memang datang dan pergi tetapi ide dan nilai inspiratif yang dihadirkannya hidup dan memimpin selamanya.
Kita jangan menguku kepemimpinan seseorang dari seberapa lamanya orang tersebut menduduki kursi kekuasaan tetapi seberapa banyak orang yang telah dia jernihkan pikiran mereka.
Buku berjudul The little princes pernah bertutur yang hakiki hanya bias dilihat dengan hati, lebih sekedar menjernihkan pikiran dan jiwa orang lain. Sang hati juga bisa membawa kita pada tataran hakiki. Di tataran ini sedikit sekali hati yang gelap.Teramat sedikit sinar yang menyilaukan.
Seperti sebuah perjalalan , bukankah kebanyakan hal jadi mudah dan menyenangkan, kalau hampir semuanya terang dan tidak menyilaukan.Hatilah sinar yang membuat semuannya terang tanpa menyilaukan.
Kamis, 27 Agustus 2009
MEMIMPIN DENGAN HATI
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar