Terus terang, lama saya mendendam keinginantahuan, kenapa banyak lukisan-lukisan yang datang dr cina dan jepang berlatarbelakang pohon bamboo ? Sampai-sampai sempat bertanya kesana kemari. Dan rasa ingin tahu ini sedikit terobati ketika bertemu buku dengan judul The Bamboo Oracle karangan Chao-Hsiu Chen. Karya jernih ini bertutur banyak tentang kebijakan-kebijakan Confusius melalui simbul-simbul bamboo.Rupanya, pohon yang menarik perhatian saya ini, menyimpan bayka sekali simbul dari sifat-sifat mulia.
Sebutlah sifat bamboo yang tidak memiliki bunga dan buah. Tidak sama dengan pohon lainnya yang senantiasa sombong dengan bunga dan buahnya, bamboo tetap berdiri tegak tanpa sumber kesombongan terakhir. Semua ini Seperti sedang mengingatkan kita manusia, hasil dalam kehidupan, kalau dibiarkan menjadi kekuatan pendikte kesombongan dan kencokakan, maka mudah sekali membuat orang berakar ke luar.
Berbeda dengan bamboo yang berakar kuat kedalam, orang –orang yang didikte kesombongan dan kecongkakaan, amat dan sangat tergantung pada komentar, pendapat, pujian dan makian orang lain.Dan sebagaimana kita tahu, dikaki langit manapun, dengan sikap dan prestsi setinggi apapun, pujian dan makian orang akan senantiasa datang mengikuti.Sehingga kalau pujian dan makian orang yang digunakan sebagai baromter keberhasilan, maka siklus naik turun akan senantiasa ikut bersama kita. Ketika dipuji naik siklusnnya, tatkala di maki turun moodnya.
Kalau boleh jujur, tidak sedikit manusia yang hidupnya dibuat lelah karena senantiasa mendaki dan menuruni siklus pujian dan makian. Dibandingkan lelah naik turun, orang-orang seperti kabir ( salah seorang seniman besar India ), memilih untuk berakar kedalam persis seperti bamboo Dalam kehidupan yang berakar kedalam, energi utama yang mendorong perubahan dan kehidupan bukan lagi pujian dan makian orang lain, namun kenikmatan untuk senantiasa bersyukur dalam melakukan perjalanan.
Mirip dengan anak-anak sekolah yang pergi tamasya dan didalam perjalanan selalu bernyanyi ‘disini senang disana senang ‘, demikianlah kira-kira kehidupan orang-orang yang berkar kedalam. Kabir bahkan pernah menyarankan untuk tidak perlu pergi ke taman, gunung, pantai dan tempar rekreasi lainnya. Sebab didalam sini sudah tersedia keindahan dan kenikmatan yang tidak terbatas jumlahnya. Dan kalau rekreasi ke luar kita membayar mahal, rekreasi ke dalam biayanya amatlah murah secara materi. Hanya diperlukan duduk, hening, syukur dan tersenyum.
Mirip dengan bamboo yang kuat dan kokoh karena berakar ke dalam, demikian juga kehidupan banyak orang yang berakar ke dalam. Tidak ada satupun kekuatan pendikte dari luar yang bias merobohkannya. Sayang sekali, kehidupan manusia modern tidak mau mendengarkan bamboo, untuk kemudian berakar keluar. Sebagai hasilnya, kebencian, peperangan, penderitaan dan sejeninsnya, datang tanpa mengenal rasa lelah.
Sebut tragedy meledaknya World Trade Centre New York yang bumi hanguskan oleh teroris 11 September 2001 lalu. Yang belakangan membuka pintu kebencian yang amat mencekam, apalagi penyebab utamanya kalau bukan kehidupan yang berakar ke luar. Dengan judul-judul seperti memberi pelajaran pada adi kuasa, menegakkan martabat bangsa, ada orang yang bahkan rela mati dan menghancurkan surga didalam diri, hanya untuk mengundang decak kagum orang lain.
Disamping berakar kuat ke dalam, bamboo juga senantiasa hidup dalam keheningan dan kerendahatian. Lihatlah ketika angin bertiup, ia hanya bergesek-gesek kecil dengan sahabatnya, dan kemudian menimbulkan suara desis yang hening. Dan hening terakhir adalah sejenis kualitas yang sudah lama hilang dari dunia manusia, untuk kemudian diganti dengan kekisruhan lain yang mengenal kotak dan pagar-pagar pemisah, keheningan ala bamboo sudah lama membuang kotak dan pagar-pagar terakhir. Ketika angin lembut datang, ia berdesis hening, ketika anginribut datang ia juga berdesis hening.
Seolah-olah sedang mengingatkan, hanya dengan keheninganlah kejernihan pandangan bias dipertahankan. Ketika peledakan gedung WTC NEW YORK bau terjadi, sebagai pribadi hati sayapun menangis sambil berharap inilah saatnya amerika untuk menunjukan kedigdayaannya yang sebenarnya. Ketika itu lewat bayangan saya sebagai manusia, george bush berpidato penuh senyum : “kita amat terpukul dan berduka demi kejadian ini. Namun karena kita bangsa besar inilah saatnya untuk menunjukkan pada dunia kebesaran kita.Dimana dalam kebesaran dan kedigdayaan, kebencian tidaklah sepantasnya dilawan dengan kebencian, kedengkian, tidaklah selayaknya direspons dengan kekisruhan pikiran “. Setidaknya itulah prediksi saya tentang pidato bush di hari berikutnya.
Sayang sekali, prediksi saya tentang pidato BUSH salah besar. Kedigdayaan amerika yang dibangun dalam kurun waktu lama bahkan dijatuhkan oleh serangkaian kebencian dan kekisruhan.
Kita terserah mau memilih yang mana, bagaimana kita harus menghadapi permasalahan. Sebagaiman yang di intisarikan oleh Chao hsiu chen, bamboo senantiasa silent, modest. Hening, sopan dan berakar ke dalam.
Kamis, 27 Agustus 2009
MENDENGARKAN BAMBU BICARA
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar