Kamis, 27 Agustus 2009

PEMIMPIN YANG MELAYANI

Semakin banyak saya membaca literature atau konsep mengenai kepemimpinan, semakin saya merasa tidak mungkin menjadi seorang pemimpin yang baik. Bayangkan menurut berbagai ahli kepemimpinan seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang kharismatik, inspirational, transformational, innovative, motivational, memiliki kesadaran global, dan masih banyak lagi istilah canggih yang semakin menunjukkan betapa predikat “pemimpin” menjadi sangat ekslusif. Jika untuk menjadi pemimpin harus memiliki kualifikasi secangih itu, lalu berapa banyak orang yang mampu menjadi pemimpin dimasa mendatang?

Saya teringat pengalaman pada saat menyelesaikan program pasca sarjana. Saat itu saya melakukan penelitian guna mencari jawaban atas pertanyaan apakah saya dapat memprediksi gaya kepemimpinan seseorang berdasarkan “Personal Valuenya “? Suatu pertanyaan yang sederhana, namun memiliki jawaban yang membuat saya sering sakit kepala karena saya harus membaca dan memahami berbagai gaya kepmimpinan dari berbagai literature yang semuanya berakhir pada suatu kesimpulan : Konsep kepemimpinan pada umumnya rumit, sulit dipahami, maupun diterapkan. Saya rasa bukan hanya saya seorang yang merasa demikian. Buktinya Salah seorang rekan disebuah perusahaan besar sedag mencari lulusan terbaik dari universitas-universitas di Indonesia untuk dididik menjadi manajer atau pemimpin masa depan.Ketika saya Tanya “Kriteria manajer masa depan itu seperti apa ?” ternyata ia sendiri juga bingung. Ia mencoba mengungkapkan istilah-istilah canggih seperti pada awal teks diatas, tanpa mampu memberikan contoh tingkah laku konkret dari manajer masa depan.

Saya menjadi bertanya-tanya adakah konsep kepemimpinan yang sederhana, tidak sulit untuk diterapkan, namun memiliki dampak yang langsung terlihat terhadap kinerja anak buah maupun tim kerja.

Menurut saya seorang pemimpin atau manajer yang baik adalah pemimpin yang bersedia “melayani “ artinya bersedia bekerja bagi tim dan sekaligus memimpin tim tersebut.Tentu saja kita harus tetap mempertimbangkan aspek keseimbangan dalam pelayanan.Artinya pelayanan dari seorang manajer tidak boleh berlebihan sehingga tugas manajer tampak lebih mirip dengan tugas Offie boy. Bagaimanapun, peran manajer sebagai pemimpin tim tetap harus menonjol.

Lalu agar seorang manajer dapat menjadi pemimpin yang “melayani”karakter seperti apa yang harus dimiliki? Hal yang paling utama tentunya manajer tersebut harus menyukai manusia sehingga ia mampu memahami hubungan antar manusia dengan baik.

Dengan demikian ia akan melihat konsep ini sebagai manifestasi dari rasa cintanya terhadap hubungan antar manusia, bukan lagi sebagai tuntutan peran semata. Dengan bahasa yang sederhana ia mampu melayani anak buahnya karena ia memang mau dan senang melakukannya.

Bentuk pelayanan yang dapat diberikan oleh seorang manajer kepada anak buahnya dapat bervariasi dari mulai aktivitas sehari-hari hingga keputusan manajemen yang lebih kompleks.Misalnya ia akan berusaha meluangkan waktu saat anak buahnya sedang membutuhkan saran dan masukan. Atau setiap kali manajer memberikan tugas kepada anak buahnya, ia tidak lupa menanyakan kegiatan anak buah saat akhir pecan karena ia tidak hanya tertarik dengan masalah pekerjaan tetapi juga kehidupan social anak buahnya ( yang sering diartikan ole sebagian orang sebagai basa basi yang tidak perlu ). Contoh lain misalnya ketika anak buah tida berhasil menyelesaikan tugas sesuai harapan. Anda sebagai manajer, maka anda berusaha membesarkan hatinya dan menunjukkan cara yang lebih efektif untuk menyelesaikan tugas serupa di masa datang.

Selain itu ada pula bentuk pelayanan dari seorang manajer terhadap anak buahnya dalam bentuk yang lebih luas dan menyangkut kebijaksanaan perusahaan secara keseluruhan. Misalnya yang diusulkan oleh Tony Barnes berdasarkan teori kaizen mengenai kepemimpinan ( 1998 : hal 85 ). Ia menyatakan bahwa pada dasarnya seorang manajer dapat memberikan bantuan dalam 5 bentuk sebagai berikut :

Kalau seorang karyawan tidak tahu apa yang harus dikerjakan …. Beri ia penjelasan.
Kalau seorang karyawan tidak tahu bagaimana cara mengerjakan nya… beri ia pelatihan.
Kalau seorang karyawan tidak ingin megerjakannya…beri ia motovasi.
Kalau seorang karyawan tahu apa yang harus dikerjakan, berkompetensi dan memeliki motivasi untuk mengerjakannya….beri ia kesempatan.
Kalau seorang karyawan sudah mengerjakannya dan memenuhi standar
( bahkan melebihi ) beri ia penghargaan.

Sudahkah anda menjadi pemimpin yang mampu “melayani” anak buah.

0 komentar: