Jumat, 24 Juli 2009

EMPAT CIRI KONDISI KERJA YANG TIDAK MEMILIKI NILAI IBADAH

1. Keinginan-keinginan dunia yang tidak ada habisnya
2. Kesibukan yang tiada henti dan tidak pernah ada yang diselesaikan dengan
baik.
3. Menghadapi kebutuhan-kebutuhan yang tidak berujung.
4. Angan-angan yang tidak pernah tercapai.


Keluhan-keluhan yang serin ditemui pada unit frontliner ( Sinergi, edisi VI 2007, hal 19 ) :
 Kekurangan tenaga sehingga pekerjaan tidak tertangani secara maksimal.
 Atasan hanya mendoktrin dan tidak pernah turun langsung pada jam pelayanan.
 Nasabah rata-rata orang desa, sehingga tidak memerlukan standar layanan,
yang penting transaksi cepat selesai.
 Ada juga tipe nasabah yang tidak mementingkan greeting dan semua standar
layanan , asal pelayanannya cepat.
 Penampilan tidak bisa standar karena pendapatan sekedar buat hidup sehari-
hari.
 Hari-hari ini sedang banyak masalah.
 Terlalu banyak aturan, sesekali atasan terjun sendiri agar tahu kerja
frontliner.

Pemecahan diatas dapat dijalani dengan cara ( Sinergi, edisi VI 2007; hal 19 ) :
 Jadikan pelayanan sebagai ajang dan kesempatan beribadah.
 Berkomunikasi dengan nasabah menjadi saat tepat untuk menguji kesabaran
sekaligus belajar mendewasakan.
 Saat melayani nasabah menjadi kesempatan mempelajari dan memahami sifat
serta karakteristik pribadi yang kita jumpai.
 Berhadapan dengan nasabah dan berkomunikasi saat pelayanan, manfaatkan untuk
melupakan kejenuhan atau masalah yang ada.
 Setiap nasabah adalah pribadi yang mempunyai komunitas sosial, mungkin kita
akan bertemu kembali dalam situasi yang berbeda. Jadi mari kita berbuat baik
sehingga menimbulkan kesan mendalam, ketika bertemu kembali sosok kita tetap
dihargai.
 Ketulusan / Ihsan dalam melayani terlihat dari ekspresi wajah dan suasana
akan terasa hangat. Jika melayani dengan keterpaksaan, ekspresi wajah
terlihat kaku dan sudah tentu akan menimbulkan kejenuhan.
 Kita juga adalah nasabah ( konsumen ) di bidang jasa lain. Bila kita tidak
suka akan pelayanan buruk maka nasabah kita juga menginginkan hal yang
serupa.


KEYAKINAN SEBAGAI SATU DINAMISATOR KESUKSESAN KARIR
1. Saya sudah lama bekerja pada sebuah perusahaan. Saya sudah berupaya sebaik mungkin bekerja, tetapi kelihatannya saya sulit berkembang dengan pekerjaan saya sekarang.
Buatlah diri kita berbeda dalam kerangka positif, kita harus mengesankan kalau kita adalah orang yang unik.
Cobalah untuk berupaya maksimal, datang tepat waktu, selesaikan tugas tepat waktu, anda tidak rewel dengan tumpukan pekerjaan, tanggung jawab anda penuhi. Buatlah pimpinan anda terkesan ketika anda menggarap satu proyek ( akan terlihat dedikasi dan loyalitas. )
Jika orang lain baik rekan atau pimpinan anda diuntungkan oleh kehadiran dan karya anda , tentunya simpati dan perhatian mudah diraih. Bantuan dan dukungan bukan hal sulit lagi bagi anda. Jalan kelanjutan karir anda juga terpampang jelas.

2. Saat ini kedudukan dalam pekerjaan saya cukup lumayan. Saya bercita-cita meraih posisi yang lebih tinggi. Saya menargetkan usia saya tidak lebih dari 30 ketika mencapai posisi itu.

Saya berupaya mempelajari sikap yang menunjang perkembangan karir. Seperti profesionalisme, nerkomunikasi lebih baik dan bertukar pikiran. Kerap kali saya merasa sungkan atau hormat yang terlalu besar ketika berjumpa dengan pimpinan.
Bagaimana cara memiliki kepercayaan diri cukup untuk berkomunikasi dengan orang lain yang berposisi lebih tinggi. Meski saya menganggap, komunikasi pada siapapun penting baik dilevel bawah atau atas. Karena keduanya berhubungan dengan kebrhasilan tim kerja.

0 komentar: